Kamis, 11 September 2014

Rumah Adat Sasak Yang Tetap Dijaga Kebudayaannya

Berlibur menuju Pulau Lombok, bukan tetap bercerita tentang keindahan pantai serta pemandangan bawah lautnya yang memanjakan mata. Para pelancong juga dapat menonton lewat langsung bagaimana kehidupan sesungguhnya suku Sasak yang ada di Desa Rambitan, Sade itu. Pelancong sukses melewati jarak tetangga 25 menit dari Bandara untuk setelah menuju Lokasi tersebut. Disana, pra pengunjung akan disajikan serta keunikan rumah hukum adat sasak yang sangat unik. Rumah tersebut terbuat dari bahan nomor satu bambu yang merekapun ambil dari hutan atau kebun selingkungan merekapun.

Demi dindingnya, warga setempat membuat anyaman untuk sukses digunakan merupakan pembatas setiap ruangan atau dinding. Sementara bambu yang selalu berbentuk batangan, digunakan untuk tiang penyangga rumah. Uniknya, rumah hukum adat sasak ini memperoleh atap serta bentuk layaknya gunungan yang menukik menuju bawah jika dilihat dari kejauhan. Atap rumah tradisional suku sasak tersebut terbuat dari jerami atau akar alang-alang. Sedangkan demi sesi lantainya, rumah tradisi sasak Sade tersebut menggunakan tanah juga campuran batu bata, abu jerami dengan serta getah pohon.

Berada seorang adat istiadat suku sasak yang mungkin terdengar di luar kehebatan, yakni melumuri lantai rumah juga kotoran. Biasanya kotoran yang dipakai datang dari ternak mereka, baik kerbau maupun sapi yang telah dibakar juga dihaluskan. Mereka menjalankan tradisi itu karena harap menjaga seantero lantai untuk tidak mudah retak juga lembab. Bahkan dipercaya, melumuri lantai dan kotoran dapat menjadi pengusir nyamuk paling alami.

Dalam tradisi publik lombok, rumah adat sasak ini memiliki posisi cukup menentukan demi kehidupan manusia, yakni sebagai lokasi privasi keluarga untuk berlindung. Bahkan tak sekedar berlindung membuka jasmani, namun dengan demi memenuhi keperluan spiritualnya. Maka dari ini, seandainya kita melihat arsitektur rumah hukum adat suku sasak juga cermat, kamu bisa menemukan jika rumah itu memperoleh estetika, lokal masyarakatnya. Setiap ruangan pada rumah, dibagi berpatokan pada kegunaan masing-masing, semacam demi tempat tidur, ruang melahirkan semua ibu, tempat menyimpan harta juga penyimpanan jenazah sebelum dikebumikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar